Banjir yang melanda DKI Jakarta
A.
Hal atau masalah yang diteliti :
·
Banjir yang melanda kawasan DKI
Jakarta.
·
Penyebab banjir yang melanda kawasan
DKI Jakarta.
·
Akibat dari terjadinya banjir.
B.
Orang yang meneliti :
Benny Rivaldy, kelas XI IPA 1, siswa SMAN 43 JAKARTA.
C.
Waktu mengadakan penelitian :
Kamis, 17 Januari 2013.
D.
Tempat penelitian dilakukan :
Bukit Duri, Jakarta Selatan.
E.
Sebab penelitian :
·
Ingin mengetahui penyebab terjadinya
banjir yang melanda kawasan DKI Jakarta.
·
Ingin mengetahui akibat dari
terjadinya banjir.
F.
Proses penelitian :
·
Mencari tahu tentang penyebab
terjadinya banjir.
·
Mencari tahu tentang akibat dari
terjadinya banjir.
G.
Hasil penelitian :
Banjir merupakan
peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan. Di
Jakarta ini banyak lokasi-lokasi yang rawan banjir. Banjir terjadi di jalan
raya maupun di rumah penduduk. Salah satu lokasi rawan banjir di Jakarta yaitu
di Bukit Duri. Wilayah ini seringkali dilanda oleh banjir, karena berdekatan
dengan sungai Ciliwung. Walaupun begitu, banyak penduduk setempat yang masih
nyaman tinggal di wilayah itu dan juga banyak yang masih nyaman tinggal di
pinggiran sungai Ciliwung. Hal ini terjadi karena sulitnya mencari tempat
tinggal yang layak dan aman dari banjir. Wajar saja jika mencari tempat tinggal
yang layak dan aman dari banjir itu sulit, dikarenakan masalah biaya sewa di
Jakarta ini sangat mahal sehingga penduduk setempat terpaksa tinggal di
pinggiran sungai Ciliwung.
Ketika terjadi hujan
lebat dan mendapat banjir kiriman dari Bogor, mereka sudah terbiasa
mengahadapinya hampir setiap tahun.
Pada tanggal 17 Januari
2013 ,di wilayah ini terjadi banjir. Bukan hanya di Bukit Duri, tetapi di
wilayah lain seperti wilayah Thamrin, Sudirman, Daan Mogot, Bundaran HI juga
banjir. Namun, wilayah yang sering terjadi banjir adalah wilayah Bukit Duri.
Ketika banjir tiba, penduduk setempat segera menyelamatkan barang-barang
berharganya dan segera menyelamatkan diri.
Salah seorang warga
bernama Suwiryo, warga Bukit Duri mengatakan bahwa air tiba-tiba dating dan
langsung merendam rumah-rumah disekitar itu. Air yang tiba-tiba dating itu
berasal dari wilayah Bogor dan juga karena hujan yang sangat deras di Jakarta.
Banjir ini ketinggiannya berkisar sedalam 30 cm – 200 cm. Walaupun
berketinggian 30 cm – 200 cm, tetap saja warga masih ada yang bertahan di atap
rumah mereka. Tetapi, ada juga yang mengungsi ke posko banjir.
Meskipun sebagian ada
yang bertahan di atap rumah atau lantai dua, para relawan dan TIMSAR tetap
membujuk mereka agar mau mengungsi ketempat pengungsian. Padahal pera TIMSAR
sudah menyiapkan 5 perahu karet untuk mengevakuasi para korban yang masih
berada di rumahnya. Ditambah 5 buah perahu karet dari bantuan Dinas Sosial DKI
Jakarta, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta, serta
Satpol PP juga sudah dioperasikan di lokasi.
Perahu karet ini
digunakan warga untuk transportasi di wilayah banjir. Terkait dengan konsumsi,
kebutuhan penting bagi pengungsi sudah mencukupi karena banyak bantuan dari
lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat dan Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta Selatan, PMI cabang Jakarta Selatan, dan tidak menutup kemungkinan dari
CSR Perusahaan maupun LSM. Selain itu, pengungsi banjir yang terdiri dari
wanita, usia lanjut dan anak-anak menjadi prioritas utama di tempat
pengungsian. Meskipun ini semua sering mereka rasakan hampir setiap tahun,
mereka hanya pasrah dan berharap agar pemerintah mau membangun agar banjir
tidak melanda Jakarta lagi. Seiring dengan terjadinya banjir di Jakarta ini,
terdapat faktor-faktor yang menyebabkan banjir, yaitu :
1. Curah hujan.
Curah hujan yang tinggi
dalam beberapa hari terakhir membuat volume air bertambah. Sungai dan waduk
meluap. Tanggul pun jebol karena tak mampu menahan banyaknya air.
2. Berubahnya ruang terbuka hijau.
Berubahnya ruang terbuka
hijau di Jakarta menjadi kawasan pembangunan, seperti permukiman, gedung, dan
jalan. Resapan air hujan menjadi berkurang dan akhirnya air mengalir ke
jalanan.
3. Sistem drainase yang buruk di
Jakarta.
Melihat kondisi seperti
ini, seharusnya saluran air berujung ke sungai atau laut, melainkan ke daerah
resapan atau ke dalam tanah. Pemerintah harus melakukan revitalisasi terhadap
sistem drainase di seluruh Jakarta dan jalan-jalan protokol seperti Sarinah,
Thamrin, Sudirman, dan lainnya. Pemerintah juga perlu membuat sistem drainase eco-drainase yang mengalirkan air
ke sumber resapan.
4. Tidak optimalnya fungsi waduk maupun
situ.
Dalam catatannya, pada
tahun 1990-an, Jakarta memiliki 70 waduk dan 50 situ. Namun, kini hanya tersisa
42 waduk dan 16 situ. Sebanyak 50 persen di antaranya pun tidak berjalan
optimal. Waduk-waduk di Jakarta dipenuhi tumbuhan enceng gondok, limbah, dan
sampah. Pendangkalan pun terjadi akibat sedimentasi lumpur. Waduk yang akhirnya
mengering kemudian dijadikan daerah hunian.
5. Belum dilakukannya normalisasi di
semua sungai.
Menurut saya, pemerintah
seharusnya melakukan normalisasi kali sekaligus merelokasi permukiman di
bantaran sungai ke tempat yang layak huni.
6. Banyaknya orang yang membuang sampah
di sungai.
Meskipun sering terjadi banjir,
mereka semua tidak mau menyadari bahwa banjir terjadi juga dikarenakan membuang
sampah di sungai atau di selokan sembarangan. Hal ini membuat selokan menjadi
mampet dan membuat sungai menjadi penuh akibat
sampah tersebut.
Selain masalah faktor, juga ada akibat atau dampak negative
dari adanya banjir di Jakarta, yaitu diantaranya :
1. Banyak terserah penyakit.
2. Jalan menjadi lumpuh total.
3. Banyak mengalami kerugian ekonomi.
4. Banyak melayangnya nyawa.
5. Air minum mulai langka.
6. Harga bahan pokok menjadi mahal.
Ada berbagai dampak negatif terhadap banjir terhadap
pemukiman manusia dan aktivitas ekonomi. Namun, banjir juga dapat membawa
banyak keuntungan, seperti :
1. Mengisi kembali air tanah.
2. Menyuburkan tanah.
3. Memberikan nutrisi kepada tanah.
4. Menghasilkan uang bagi pengangkut
gerobak yang mengangkut orang dan kendaraan ketika banjir.
H.
Kesimpulan dan Saran
Jadi kesimpulannya, di Jakarta ini masih banyaknya wilayah yang
tergenang banjir. Untuk itu, perlu adanya kesadaran masyarakat agar maumemelihara ibukota ini sebaik mungkin
dan juga perlunya perhatian pemerintah untuk bersama-sama memelihara kota
Jakarta menjadi lebih baik lagi, karena banjir ini menyebabkan kerugian yang
sangat merugikan semua orang.
by : Benny Rivaldy @bennyrvd14
by : Benny Rivaldy @bennyrvd14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar