selamat datang bagi anda yang berkunjung.. semoga blog ini dapat bermanfaat bagi anda..

Sabtu, 15 Februari 2014

RESENSI


hallo, gue ngepost tugas sekolah nih.. bisa komentar bila ada kesalahan atau kekurangan. terima kasih selamat membaca.


RESENSI
“BETERNAK KELINCI UNGGUL”


NAMA                     : BENNY RIVALDY
KELAS                    : XII IPA 2
NO. ABSEN            : 12


SMA NEGERI 43 JAKARTA




http://www.kanisiusmedia.com/uploads/cover/2/024448-2.jpgIdentitas Buku
Judul                            : Beternak Kelinci Unggul
Pengarang                     : H. R. Kartadisastra
Penerbit                        : Kanisius, Yogyakarta
Tahun Cetakan              : 2001
Jumlah Halaman            : 64 Halaman








KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah serta karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan resensi yang berjudul “Beternak Kelinci Unggul”dengan baik. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya guru pembimbing kami ibu Ida Kholida, S.Pd yang banyak membantu dalam penyelesaian tugas resensi ini. Adapun penulisan resensi ini berkaitan dengan perkembangan perekonomianpada saat ini, agribisnis merupakan kegiatan penting di segala bidang, termasuk bidang pertanian dan petenakan dalam rangka mencukupi kebutuhan pangan nasional.
Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan hal pangan, baik budidaya tanaman maupun ternak. Ternak kelinci merupakan salah satu alternatif pensuplai daging yang sangat dibutuhkan, namun hingga saat ini pemanfaatannya masih belum maksimal karena belum diusahakan secara intensif.
Oleh karena itu, kami mengharap semoga resensi ini menjadi referensi untuk menambah pengetahuan. Kami mengharap segala saran untuk dapat menjadikan laporan ini menjadi lebih baik. Kami meminta maaf atas segala kesalahan maupun kekurangan dalam penyusunan resensi ini.


                                                                                                                                                Benny Rivaldy




BAB I (PENDAHULUAN)
Pembangunan di Indonesia sebagian besar terjadi di Sektor Pertanian. Sebagaimana kita ketahui bahwa sekitar 70% penduduk Indonesia bertempat tinggal di pedesaan yang sumber hidup utamanya adalah dari sektor pertanian. Dengan cepatnya perkembangan di bidang perekonomian yang ditunjukkan dengan adanya kenaikan pendapatan per kapita, maka tuntutan masyarakat terhadap kubutuhan gizi pun meningkat. Salah satu alternatif nya adalah dengan meningkatkan produksi peternakan serta memanfaatkan hasilnya yang berupa daging, susu, dan telur.
Ternak kelinci adalah salah satu bagian peternakan yang dapat menghasilkan daging berkualitas dengan kandungan protein yang tinggi. Namun untuk meningkatkan populasi dan memanfaatkan hasilnya, perlu di tunjang dengan teknologi yang memadai.

BAB II (TINJAUAN UMUM)
                Ternak kelinci memiliki beberapa keunggulan, seperti biaya produksi relatif murah, menghasilkan daging yang berkualitas tinggi dengan kadar lemak yang rendah, pemeliharaannya mudah, dapat melahirkan anak 4-6 anak setiap kelahirannya. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan perencanaan agar kelinci yang diternakkan tersebut berhasil guna, meliputi tentang pengetahuan dan cara pemeliharaan kelinci, menentukan tujuan produksi, membangun kandang dan menyediakan peralatannya, memiliki bibit dan jenis yang baik, merancang pakan dan sumbernya, serta pengetahuan tentang memproses daging kelinci dan mengkonsumsinya.
                Secara garis besar produksi daging kelinci lebih menguntungkan daripada daging sapi jika dilihat pertahun nya. Seekor induk kelinci mampu melahirkan anak 4-6 kali setiap tahun dengan rata rata jumlah anak sapi sebanyak 8 ekor. Jika 4 ekor induk bersama-sama menghasilkan anak setiap tahunnya dengan normal, maka bila di total akan menghasilkan 128-192 ekor kelinci, yang jelas lebih besardaripada rata-rata produksi sapi setiap tahunnya.
                Hampir semua produk ternak kelinci termasuk hasil ikutannya dapat dimanfaatkan secara langsung maupun melalui proses yang tentu akan membuka kesempatan kerja bagi rumah industri atau besar besaran. Hasil ikutannya seperti Karkas (daging berkualitas dan tulangnya untuk pakan ternak), Bulu atau kulit (bisa untuk topi, baju, tas, sepatu, hiasan), Kepala (bahan pakan anjing/kucing, otak sebagai bahan vaksin), Kotoran dan urine (bahan bakar pembuatan methana dan pupuk kompos), serta kaki dan ekor (hiasan dan untuk gantungan kunci).

BAB III (BANGSA DAN JENIS TERNAK)
Kelinci memiliki jenis/strain yang berbeda, biasanya kelinci yang untuk dipelihara adalah kelinci jenis American Chinchilla (Kelinci Amerika), Angora (Kelinci China), Belgian (Beveren/Kelinci Belgia), California (Kelinci California), Dutch (Kelinci Belanda), English Spot (Kelinci Inggris), Flemish Giant (Kelinci Belgia), Havana, Himalayan (Kelinci Nepal), New Zealand Red/White/Black (Kelinci Australia), Rex (Kelinci Amerika). Berdasarkan berat badannya, jenis-jenis kelinci seperti pada di atas dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu jenis besar yang mempunyai berat 5,5 kg ke atas (Kelinci Amerika, Belgia), jenis sedang mempunyai berat 4,5 - 5,5 kg (Kelinci Angora, New Zealand Black), dan kelinci jenis kecil yang mempunyai berat 3,25 kg (Kelinci Beveren, Belanda, Inggris, New Zealand White).
Sebenarnya, semua jenis/strain kelinci seperti di atas adalah keturunan dari kelinci liar Eropa (Oryctolagus cuniculus). Walaupun demikian, beberapa di antaranya sudah merupakan kelinci-kelinci lokal di daerah/negara asalnya, misalnya kelinci-kelinci jenis New Zealand White dan Californian. Jenis-jenis ini sangat baik dikembangkan di Nepal, karena temperatur lingkungannya relatif dingin. Kedua jenis kelinci tersebut juga sangat populer di kalangan industri daging komersial di beberapa negara berkembang, karena sangat memungkinkan sebagai penghasil daging, dan fertilitas serta pertumbuhan dan konversi pakannya sangat baik. Tentu sajan dalam hal ini harus ditunjang dengan kondisi yang baik pula, seperti Tatalaksana, Perkandangan, Pakan, dan Pemeliharaanny. Di samping itu, kedua jenis kelinci tersebut sekarang sudah banyak diternakkan di negara-negara tropis dengan berbagai lingkungan yang berbeda, dan pada kenyataannya dapat berkembang dengan baik.

 BAB IV (PERKANDANGAN DAN PERALATAN)
                Ternak kelinci tidak menuntut perkandangan yang khusus untuk tempat hidupnya, sebagaimana ternak-ternak yang lain, misalnya sapi perah, domba, kambing, dan unggas. Ternak kelinci dapat dikandangkan di luar dengan sistem perkandangan yang sangat sederhana. Habitat aslinya adalah di dalam tanah dengan kebiasaan hidupnya membuat lubang. Tetapi kalau tujuannya adalah peternakan intensif dalam skala besar, maka kelinci harus dikandangkan pada sangkar-sangkar yang terpisah di dalam suatu bangunan sebagai naungan.
                Dari segi teknis, beberapa persyaratan dalam pembuatan kandang untuk kelinci yang harus diperhatikan adalah menjamin kesehatan lingkungan, memungkinkan untuk menghasilkan ternak berkualitas, program yang terencana, biaya konstruksi dapat di minimalkan, tidak mudah terbakar, ternak dapat bergerak bebas, terlindungi dari bahaya, melindungi ternak dari keadaan cuaca yang buruk, vertilisasi yang baik, selalu kering, memudahkan untuk perawatannya, serta memiliki drainase yang baik.
                Di samping itu ada beberapa persyaratan khusus yang perlu diperhatikan untuk pembuatan kandang untuk ternak kelinci, yaitu temperaturnya harus 21 °C, perlu adanya penerangan cahaya agar kelinci menjadi nyaman (disesuaikan dengan jenis kelinci), naungan/bangunan kandang harus kokoh, diusahakan agar kandang ditempatkan sesuai dengan kondisi lingkungan, tipe kandang, sarang untuk beranak, tempat pakan dan minum serta peralatan lainnya.

BAB V (TATALAKSANA DAN REPRODUKSI)
                Untuk memilih keturunan yang baik sebagai bibit pengganti sekaligus sebagai anakan yang akan menghasilkan daging, maka harus dipilih induk yang baik. Selain itu untuk memilih keturunan yang mempunyai performansi yang lebih baik dari induknya dan untuk mempertahankan suatu sifat yang spesifik, maka perlu adanya system pemuliabiakan.
                Menurut pengalaman dari beberapa peneliti, bahwa untuk tujuan mempertahankan performasi eksterior pada ternak kelinci seperti warna bulu dan sifat karakteristiknya maka harus dilakukan perkawinan dengan sistem silang dalam. Hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan sifat-sifat yang diturunkan induknya seperti yang sering dilaksanakan pada ternak kelinci jenis Angora dalam rangka mempertahankan warna dan kualitas bulunya.
                Selain itu untuk tujuan mengkombinasikan beberapa sifat/karakteristik dari induknya, maka harus dilakukan perkawinan sistem silang luar. Tentu system ini juga dilakukan untuk mencari karakteristik yang khas yang akan diturunkan oleh dua jenis ternak yang masing-masing mempunyai sifat berbeda.
                Untuk memilih bibit penggantinya sangatlah mudah. Apabila bibit ternak kelinci yang diternakkan sudah tua dan memperlihatkan performasi yang semakin buruk, maka perlu diganti dengan bibit yang baru yang dapat diambil dari keturunannya. Dalam memilih bibit pengganti, perlu memperhatikan beberapa faktor sebagai pegangan yaitu kondisi dan kesehatan ternak serta keadaan eksterior atau konformasi tubuhnya.
                Kelinci betina harus segera mulai dikawinkan ketika mencapai dewasa tubuh. Apabila setelah mencapai dewasa tubuh tidak segera dikawinkan dan dibiarkan dalam waktu yang cukup lama, maka semakin lama akan semakin sulit. Sebaliknya, apabila dikawinkan terlalu dini akibatnya banyak mortalitas pada anak-anaknya serta kesehatan induk akan terganggu.
                Untuk pejantan, walaupun pada umur 4 bulan sudah mampu untuk mengawini betinanya, tetapi untuk hasil yang memuaskan dan menjaga kondisi tubuhnya pejantan mulai boleh mengawini apabila sudah mencapai 6 bulan. Walaupun pejantan akan “siap” mengawini setiap saat, penggunaannya tidak boleh melebihi 3 kali dalam seminggu. Menurut pengalaman, penggunaan pejantan 2 kali seminggu depan mengawini 2 ekor betina pada setiap kalinya menunjukkan hasil yang cukup memuaskan.
                Terkadang kelinci induk menunjukkan tanda-tanda kehamilan dengan membuat sarang dan memproduksi susu tetapi tidak melahirkan anak-anaknya. Kelinci betina yang berbuat demikian tidaklah hamil, maka disebut hamil semu. Keadaan tersebut disebabkan oleh karena terlalu lama tidak dikawinkan setelah beranak.
                Metode yang paling tepat untuk mengetahui kehamilan pada ternak kelinci adalah dengan cara meraba bagian perut untuk menemukan embrio di dalam tanduk uterus. Perkembangan embrio dapat diraba dengan cara menggerakkan jari-jari tangan pada bagian perut induk mulai dari bagian depan bergerak ke arah belakang di antara kedua kaki belakangnya tepat di depan pelvis. Embrio akan teraba bulat seperti bola-bola kecil.
                Kehamilan pada ternak kelinci adalah 28 – 33 hari dengan rata-rata 31 hari. Anak-anak kelinci yang baru dilahirkan keadaannya lemah, nata tertutup dan tidak berbulu. Oleh karena itu, 5 hari menjelang kelahiran perlu ditempatkan sarang beranak yang bertujuan memberi penghangat kepada anak yang baru lahir. Ketika anak kelinci dilahirkan bersamaan dengan induk yang lain, maka dapat dipindahkan ke induk lain jika air susu pada induknya berkurang. Dan bila sudah berusia 2 bulan, kelinci jantan dan kelinci betina harus dipisahkan dan bila berumur 3 bulan mereka harus dikandangkan secara individu.
                Setiap klinci baik induk, pejantan, maupun anak-anaknya sebagai calon pengganti harus diberi identitas khusus sehingga mudah dibaca setiap saat dan diketahui asal-usul keturunannya. Dalam metode kelahiran, diperlukan kalender induk untuk catatan informasi yang akan memberi petunjuk dalam mengecek dan mengontrol semua kegiatan terutama siklus reproduksi dan kelahiran ke kelahiran.
                Seperti halnya peternakan lainnya, kartu catatan produksi haruslah dimiliki oleh suatu peternakan kelinci baik sebagai usaha komersial maupun usaha kecil-kecilan, selain itu, juga akan menjadi pedoman dalam menyeleksi ternak pengganti bibit.

BAB VI (PEKAN TERNAK KELINCI)
                Pengetahuan tentang daya cerna dan tersedianya zat-zat makanan di dalam pakan ternak kelinci sampai saat ini masih terbatas. Ternak kelinci mempunyai keterbatasan kemampuan terbatas dalam mencerna serat kasar. Tetapi untuk tujuan komersial, baik jenis maupun jumlah pakan yang diberikan harus diperjatikan dan disesuaikan dengan kebutuhan pakannya.
                Secara umum, pakan ternak kelinci dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu pakan produksi yang mengandung protein dengan kadar tinggi dan pakan hidup pokok yang mengandung energi dan protein dengan kadar rendah. Pakan komplit yang berbentuk butiran, biasanya tersusun 50% - 60% konsentrat dan 40% - 50% hijauan. Untuk pemberian pakan, ada dua sistem pemberian pakan pada ternak kelinci, yaitu ad libitum dan restriction. Sistem ad libitum diterapkan pada kelinci-kelinci dalam pertumbuhan, induk hamil dan induk menyusui. Sedangkan untuk sistem restriction diterapkan untuk kelinci-kelinci induk yang tidak sedang berproduksi dan pejantan. Hal ini dilakukan agar ternak tidak mengalami kegemukan yang dapat mengakibatkan rendahnya fertilitas. Walaupun demikian, untuk menekan pemborosan pakan yang diberikan, maka sistem restriction yang terkontrol dapat diterapkan pada semua kelas ternak kelinci.
                Seiring berjalannya hal tersebut, ada suatu cara yang namanya konversi pakan. Merupakan imbangan dengan berat daging hidup yang dihasilkan. Konversi yang terbaik diperoleh ketika ternak mempunyai bobot badan 1,8 – 2 kg, yaitu berumur 2 – 3 bulan. Jadi, konversi pakan ini merupakan faktor yang sangat penting untuk menentukan untung atau rugi usaha peternakan kelinci.
                ternak kelinci juga mempunyai kebiasaan menggigit dan memakan bulunya sendiri dan bahan lain seperti kayu/bambu sangkarnya, tempat pakan serta tempat minum. Hal ini biasanya terjadi apabila pada pakan kekurangan kandungan serat kasar dan juga kandungan protein pakan sangat rendah. Dengan penambahan bungkil kacang tanah ke dalam ransum akan membantu menghilangkan kebiasaan ini karena bahan ini akan memperbaiki imbangan protein di dalam ransum apabila protein ransum rendah. Pengalaman menunjukkan bahwa dengan cara menyediakan potongan kayu dan garam cetak yang digantungkan di dalam sangkarnya, maka kebiasaan tersebut akan tetap berlangsung tanpa merusak bagian-bagian sangkar termasuk tempat pakan dan tempat minumnya.

BAB VII (SANITASI, TINDAKAN PREVENTIF, DAN PENGONTROLAN PENYAKIT)
                Vaksinasi pada ternak kelinci tidak perlu dilakukan, maka jalan yang terbaik dan yang paling mudah untuk pencegahan terhadap penyakit adalah dengan cara sanitasi, yaitu menjaga kebersihan lingkungannya, termasuk sangkar tempat pakan dan tempat minum setiap hari. Dengan sanitasi yang baik akan menekan pekembangan penyakit yang akan menyerang baik terhadap ternak kelinci maupun peternaknya sendiri. Adapun prinsip sehubungan dengan tindakan pencegahan terhadap penyakit dengan mengetahui pengertian dan bahaya penyakit itu sendiri, sanitasi ditujukan untuk menahan penyakit agar tidak berkembang biak, pencegahan lebih baik dari pada pengobatan, usahakan agar kandang tidak padat, selalu melakukan observasi, ventilasi dan pencahayaan sinar yang baik, peralatan kandang yang bersih, jangan terlalu sering memegang ternak, pakan, air, dan peralatan kandang apabila tidak diperlukan, lakukann isolasi bagi ternak yang sakit, serta jauhkan ternak dari keadaan yang mengganggu dan berikan istirahat setiap hari.
               Penyakit umum dan penting sering menyerang ternak kelinci adalah Scabies, Coccidiosis, Pasteurellosis dan Enteritis. Keempat penyakit ini umumnya disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap sanitasi di lingkungan peternakan. Penyakit ternak yang dimaksud adalah penyakit pada kulit, membrane mucosa, kelenjar, saluran pencernaan.  Untuk mengontrol penyakit tersebut, dapat dilakukan dengan cara melihat tanda-tanda atau gejala yang ditimbulkannya.

 BAB VIII (HASIL UTAMA DAN HASIL TAMBAHAN TERNAK KELINCI)
                Hasil dari ternak kelinci dibedakan menjadi hasil utama dan hasil tambahan, yang keduanya sangat ditentukan oleh jenis ternak dan tujuan beternak itu sendiri.
                Pada usaha peternakan yang bertujuan memproduksi daging, hasil utamanya adalah daging. Sebaliknya, bagi usaha peternakan yang bertujuan memproduksi kulit, daging merupakan hasil tambahan, misalnya usaha peternak kelinci yang memelihara kelinci jenis Angora, maka hasil utamanya adalah bulu/kulit dan hasil tambahannya daging. Disamping itu semua, kedua usaha beternak dengan memelihara ternak kelinci yang berbeda dalam tujuan, maka masing-masing akan mempunyai hasil sampingan yang samayang mempunyai ekonomis tinggi, yaitu urin dan faeces sebagai bahan utama pupuk kpmpos kelas satu.
                Ada beberapa langkah dalam menangani produk yang erat kaitannya dengan kualitas panen tersebut, yaitu dengan melakukan Starving (perlakuan terhadap kelinci yang akan dipotong dimana kelinci tersebut tidak diberi pakan selama 6 – 10 jam sebelum dipotong untuk mengosongkan usus yang akan menentukan besarnya presentase karkas), Pemotongan (pemukulan pendahuluan pemahatan tulang leher, pemotongan biasa), Pengulitan, Pengeluaran Jeroan, Pemotongan Karkas.
                Seperti hal dijelaskan bahwa selain dari hasil dan hasil tambahan yang dapat dari ternak kelinci, juga akan diperoleh hasil sampingan. Hasil sampingan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi adalah kotorannya yang dapat dimanfaatkan usaha pertanian sebagai sumber unsure hara tanah, sebab kotoran kelinci memiliki kadar nitrogen yang tinggi. Dan bila untuk pupuk yang aktif dan efektif maka harus diolah dengan cara kompos.

BAB IX (TINJAUAN EKONOMI)
                Setiap peternak kelinci dapat dikatakan sebagai seorang pengusaha bila memelihara kelinci sampai ratusan ekor. Untuk mencapai keberhasilan dalam usaha tertentu membutuhkan modal berupa uang, waktu, tenaga, dan tempat yang memadai untuk usaha ternak kelinci terebut. Di samping itu, sebagai peternak yang baik tentu saja harus berusaha untuk dapat memproduksi anak-anak kelinci sebanyak-banyaknya dari setiap induk selama satu tahun dalam masa produksinya.
                Untuk semua itu, manajemen yang baik dan terencana akan sangat menunjang keberhasilan usaha yaitu dengan memilih bibit yang baik, merencanakan modal, tata laksana pemeliharaan yang baik dan perhatian yang khusus terhadap pakan, kandang/sangkar, sanitasi serta pencatatan produksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar