hallo, gue ngepost tugas sekolah nih.. bisa komentar bila ada kesalahan atau kekurangan. terima kasih selamat membaca.
RESENSI
“BETERNAK
KELINCI UNGGUL”
NAMA :
BENNY RIVALDY
KELAS
: XII IPA 2
NO. ABSEN :
12
SMA NEGERI 43
JAKARTA
Identitas Buku
Judul : Beternak Kelinci
Unggul
Pengarang : H. R. Kartadisastra
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Tahun
Cetakan : 2001
Jumlah
Halaman : 64 Halaman
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya
panjatkan kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah serta karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan resensi
yang berjudul “Beternak Kelinci Unggul”dengan baik. Kami ingin mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak khususnya guru pembimbing kami ibu Ida Kholida, S.Pd yang banyak membantu dalam penyelesaian
tugas resensi ini. Adapun penulisan resensi ini berkaitan dengan perkembangan
perekonomianpada saat ini, agribisnis merupakan kegiatan penting di segala
bidang, termasuk bidang pertanian dan petenakan dalam rangka mencukupi
kebutuhan pangan nasional.
Berbagai upaya
dilakukan untuk meningkatkan hal pangan, baik budidaya tanaman maupun ternak.
Ternak kelinci merupakan salah satu alternatif pensuplai daging yang sangat
dibutuhkan, namun hingga saat ini pemanfaatannya masih belum maksimal karena
belum diusahakan secara intensif.
Oleh karena itu,
kami mengharap semoga resensi ini menjadi referensi untuk menambah pengetahuan.
Kami mengharap segala saran untuk dapat menjadikan laporan ini menjadi lebih
baik. Kami meminta maaf atas segala kesalahan maupun kekurangan dalam
penyusunan resensi ini.
Benny
Rivaldy
BAB
I (PENDAHULUAN)
Pembangunan di
Indonesia sebagian besar terjadi di Sektor Pertanian. Sebagaimana kita ketahui
bahwa sekitar 70% penduduk Indonesia bertempat tinggal di pedesaan yang sumber
hidup utamanya adalah dari sektor pertanian. Dengan cepatnya perkembangan di
bidang perekonomian yang ditunjukkan dengan adanya kenaikan pendapatan per
kapita, maka tuntutan masyarakat terhadap kubutuhan gizi pun meningkat. Salah
satu alternatif nya adalah dengan meningkatkan produksi peternakan serta
memanfaatkan hasilnya yang berupa daging, susu, dan telur.
Ternak kelinci
adalah salah satu bagian peternakan yang dapat menghasilkan daging berkualitas
dengan kandungan protein yang tinggi. Namun untuk meningkatkan populasi dan
memanfaatkan hasilnya, perlu di tunjang dengan teknologi yang memadai.
BAB
II (TINJAUAN UMUM)
Ternak
kelinci memiliki beberapa keunggulan, seperti biaya produksi relatif murah,
menghasilkan daging yang berkualitas tinggi dengan kadar lemak yang rendah,
pemeliharaannya mudah, dapat melahirkan anak 4-6 anak setiap kelahirannya. Untuk
mencapai hal tersebut, diperlukan perencanaan agar kelinci yang diternakkan
tersebut berhasil guna, meliputi tentang pengetahuan dan cara pemeliharaan
kelinci, menentukan tujuan produksi, membangun kandang dan menyediakan
peralatannya, memiliki bibit dan jenis yang baik, merancang pakan dan
sumbernya, serta pengetahuan tentang memproses daging kelinci dan
mengkonsumsinya.
Secara
garis besar produksi daging kelinci lebih menguntungkan daripada daging sapi
jika dilihat pertahun nya. Seekor induk kelinci mampu melahirkan anak 4-6 kali
setiap tahun dengan rata rata jumlah anak sapi sebanyak 8 ekor. Jika 4 ekor
induk bersama-sama menghasilkan anak setiap tahunnya dengan normal, maka bila
di total akan menghasilkan 128-192 ekor kelinci, yang jelas lebih besardaripada
rata-rata produksi sapi setiap tahunnya.
Hampir
semua produk ternak kelinci termasuk hasil ikutannya dapat dimanfaatkan secara
langsung maupun melalui proses yang tentu akan membuka kesempatan kerja bagi
rumah industri atau besar besaran. Hasil ikutannya seperti Karkas (daging berkualitas
dan tulangnya untuk pakan ternak), Bulu atau kulit (bisa untuk topi, baju, tas,
sepatu, hiasan), Kepala (bahan pakan anjing/kucing, otak sebagai bahan vaksin),
Kotoran dan urine (bahan bakar pembuatan methana dan pupuk kompos), serta kaki
dan ekor (hiasan dan untuk gantungan kunci).
BAB
III (BANGSA DAN JENIS TERNAK)
Kelinci memiliki
jenis/strain yang berbeda, biasanya kelinci yang untuk dipelihara adalah
kelinci jenis American Chinchilla (Kelinci Amerika), Angora (Kelinci China),
Belgian (Beveren/Kelinci Belgia), California (Kelinci California), Dutch
(Kelinci Belanda), English Spot (Kelinci Inggris), Flemish Giant (Kelinci
Belgia), Havana, Himalayan (Kelinci Nepal), New Zealand Red/White/Black
(Kelinci Australia), Rex (Kelinci Amerika). Berdasarkan berat badannya,
jenis-jenis kelinci seperti pada di atas dapat dikelompokkan menjadi 3
kelompok, yaitu jenis besar yang mempunyai berat 5,5 kg ke atas (Kelinci
Amerika, Belgia), jenis sedang mempunyai berat 4,5 - 5,5 kg (Kelinci Angora,
New Zealand Black), dan kelinci jenis kecil yang mempunyai berat 3,25 kg
(Kelinci Beveren, Belanda, Inggris, New Zealand White).
Sebenarnya,
semua jenis/strain kelinci seperti di atas adalah keturunan dari kelinci liar
Eropa (Oryctolagus cuniculus).
Walaupun demikian, beberapa di antaranya sudah merupakan kelinci-kelinci lokal
di daerah/negara asalnya, misalnya kelinci-kelinci jenis New Zealand White dan
Californian. Jenis-jenis ini sangat baik dikembangkan di Nepal, karena
temperatur lingkungannya relatif dingin. Kedua jenis kelinci tersebut juga
sangat populer di kalangan industri daging komersial di beberapa negara
berkembang, karena sangat memungkinkan sebagai penghasil daging, dan fertilitas
serta pertumbuhan dan konversi pakannya sangat baik. Tentu sajan dalam hal ini
harus ditunjang dengan kondisi yang baik pula, seperti Tatalaksana,
Perkandangan, Pakan, dan Pemeliharaanny. Di samping itu, kedua jenis kelinci
tersebut sekarang sudah banyak diternakkan di negara-negara tropis dengan
berbagai lingkungan yang berbeda, dan pada kenyataannya dapat berkembang dengan
baik.
BAB
IV (PERKANDANGAN DAN PERALATAN)
Ternak
kelinci tidak menuntut perkandangan yang khusus untuk tempat hidupnya,
sebagaimana ternak-ternak yang lain, misalnya sapi perah, domba, kambing, dan
unggas. Ternak kelinci dapat dikandangkan di luar dengan sistem perkandangan
yang sangat sederhana. Habitat aslinya adalah di dalam tanah dengan kebiasaan
hidupnya membuat lubang. Tetapi kalau tujuannya adalah peternakan intensif
dalam skala besar, maka kelinci harus dikandangkan pada sangkar-sangkar yang
terpisah di dalam suatu bangunan sebagai naungan.
Dari
segi teknis, beberapa persyaratan dalam pembuatan kandang untuk kelinci yang
harus diperhatikan adalah menjamin kesehatan lingkungan, memungkinkan untuk
menghasilkan ternak berkualitas, program yang terencana, biaya konstruksi dapat
di minimalkan, tidak mudah terbakar, ternak dapat bergerak bebas, terlindungi
dari bahaya, melindungi ternak dari keadaan cuaca yang buruk, vertilisasi yang
baik, selalu kering, memudahkan untuk perawatannya, serta memiliki drainase
yang baik.
Di
samping itu ada beberapa persyaratan khusus yang perlu diperhatikan untuk
pembuatan kandang untuk ternak kelinci, yaitu temperaturnya harus 21 °C, perlu adanya penerangan cahaya agar kelinci menjadi nyaman
(disesuaikan dengan jenis kelinci), naungan/bangunan kandang harus kokoh,
diusahakan agar kandang ditempatkan sesuai dengan kondisi lingkungan, tipe
kandang, sarang untuk beranak, tempat pakan dan minum serta peralatan lainnya.
BAB V (TATALAKSANA DAN REPRODUKSI)
Untuk
memilih keturunan yang baik sebagai bibit pengganti sekaligus sebagai anakan
yang akan menghasilkan daging, maka harus dipilih induk yang baik. Selain itu
untuk memilih keturunan yang mempunyai performansi yang lebih baik dari
induknya dan untuk mempertahankan suatu sifat yang spesifik, maka perlu adanya
system pemuliabiakan.
Menurut
pengalaman dari beberapa peneliti, bahwa untuk tujuan mempertahankan performasi
eksterior pada ternak kelinci seperti warna bulu dan sifat karakteristiknya
maka harus dilakukan perkawinan dengan sistem silang dalam. Hal ini dimaksudkan
untuk mempertahankan sifat-sifat yang diturunkan induknya seperti yang sering
dilaksanakan pada ternak kelinci jenis Angora dalam rangka mempertahankan warna
dan kualitas bulunya.
Selain
itu untuk tujuan mengkombinasikan beberapa sifat/karakteristik dari induknya,
maka harus dilakukan perkawinan sistem silang luar. Tentu system ini juga
dilakukan untuk mencari karakteristik yang khas yang akan diturunkan oleh dua
jenis ternak yang masing-masing mempunyai sifat berbeda.
Untuk
memilih bibit penggantinya sangatlah mudah. Apabila bibit ternak kelinci yang
diternakkan sudah tua dan memperlihatkan performasi yang semakin buruk, maka
perlu diganti dengan bibit yang baru yang dapat diambil dari keturunannya.
Dalam memilih bibit pengganti, perlu memperhatikan beberapa faktor sebagai
pegangan yaitu kondisi dan kesehatan ternak serta keadaan eksterior atau
konformasi tubuhnya.
Kelinci betina harus segera
mulai dikawinkan ketika mencapai dewasa tubuh. Apabila setelah mencapai dewasa
tubuh tidak segera dikawinkan dan dibiarkan dalam waktu yang cukup lama, maka
semakin lama akan semakin sulit. Sebaliknya, apabila dikawinkan terlalu dini
akibatnya banyak mortalitas pada anak-anaknya serta kesehatan induk akan
terganggu.
Untuk pejantan, walaupun pada
umur 4 bulan sudah mampu untuk mengawini betinanya, tetapi untuk hasil yang
memuaskan dan menjaga kondisi tubuhnya pejantan mulai boleh mengawini apabila
sudah mencapai 6 bulan. Walaupun pejantan akan “siap” mengawini setiap saat,
penggunaannya tidak boleh melebihi 3 kali dalam seminggu. Menurut pengalaman,
penggunaan pejantan 2 kali seminggu depan mengawini 2 ekor betina pada setiap
kalinya menunjukkan hasil yang cukup memuaskan.
Terkadang kelinci induk
menunjukkan tanda-tanda kehamilan dengan membuat sarang dan memproduksi susu
tetapi tidak melahirkan anak-anaknya. Kelinci betina yang berbuat demikian
tidaklah hamil, maka disebut hamil semu. Keadaan tersebut disebabkan oleh
karena terlalu lama tidak dikawinkan setelah beranak.
Metode yang paling tepat untuk mengetahui
kehamilan pada ternak kelinci adalah dengan cara meraba bagian perut untuk
menemukan embrio di dalam tanduk uterus. Perkembangan embrio dapat diraba
dengan cara menggerakkan jari-jari tangan pada bagian perut induk mulai dari
bagian depan bergerak ke arah belakang di antara kedua kaki belakangnya tepat
di depan pelvis. Embrio akan teraba bulat seperti bola-bola kecil.
Kehamilan pada ternak kelinci
adalah 28 – 33 hari dengan rata-rata 31 hari. Anak-anak kelinci yang baru
dilahirkan keadaannya lemah, nata tertutup dan tidak berbulu. Oleh karena itu,
5 hari menjelang kelahiran perlu ditempatkan sarang beranak yang bertujuan memberi
penghangat kepada anak yang baru lahir. Ketika anak kelinci dilahirkan
bersamaan dengan induk yang lain, maka dapat dipindahkan ke induk lain jika air
susu pada induknya berkurang. Dan bila sudah berusia 2 bulan, kelinci jantan
dan kelinci betina harus dipisahkan dan bila berumur 3 bulan mereka harus
dikandangkan secara individu.
Setiap klinci baik induk,
pejantan, maupun anak-anaknya sebagai calon pengganti harus diberi identitas
khusus sehingga mudah dibaca setiap saat dan diketahui asal-usul keturunannya.
Dalam metode kelahiran, diperlukan kalender induk untuk catatan informasi yang
akan memberi petunjuk dalam mengecek dan mengontrol semua kegiatan terutama
siklus reproduksi dan kelahiran ke kelahiran.
Seperti halnya peternakan
lainnya, kartu catatan produksi haruslah dimiliki oleh suatu peternakan kelinci
baik sebagai usaha komersial maupun usaha kecil-kecilan, selain itu, juga akan
menjadi pedoman dalam menyeleksi ternak pengganti bibit.
BAB VI (PEKAN TERNAK KELINCI)
Pengetahuan tentang daya cerna
dan tersedianya zat-zat makanan di dalam pakan ternak kelinci sampai saat ini
masih terbatas. Ternak kelinci mempunyai keterbatasan kemampuan terbatas dalam
mencerna serat kasar. Tetapi untuk tujuan komersial, baik jenis maupun jumlah
pakan yang diberikan harus diperjatikan dan disesuaikan dengan kebutuhan
pakannya.
Secara umum, pakan ternak
kelinci dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu pakan produksi yang mengandung protein
dengan kadar tinggi dan pakan hidup pokok yang mengandung energi dan protein
dengan kadar rendah. Pakan komplit yang berbentuk butiran, biasanya tersusun
50% - 60% konsentrat dan 40% - 50% hijauan. Untuk pemberian pakan, ada dua
sistem pemberian pakan pada ternak kelinci, yaitu ad libitum dan restriction.
Sistem ad libitum diterapkan pada
kelinci-kelinci dalam pertumbuhan, induk hamil dan induk menyusui. Sedangkan
untuk sistem restriction diterapkan
untuk kelinci-kelinci induk yang tidak sedang berproduksi dan pejantan. Hal ini
dilakukan agar ternak tidak mengalami kegemukan yang dapat mengakibatkan
rendahnya fertilitas. Walaupun demikian, untuk menekan pemborosan pakan yang
diberikan, maka sistem restriction
yang terkontrol dapat diterapkan pada semua kelas ternak kelinci.
Seiring berjalannya hal
tersebut, ada suatu cara yang namanya konversi pakan. Merupakan imbangan dengan
berat daging hidup yang dihasilkan. Konversi yang terbaik diperoleh ketika
ternak mempunyai bobot badan 1,8 – 2 kg, yaitu berumur 2 – 3 bulan. Jadi,
konversi pakan ini merupakan faktor yang sangat penting untuk menentukan untung
atau rugi usaha peternakan kelinci.
ternak kelinci juga mempunyai
kebiasaan menggigit dan memakan bulunya sendiri dan bahan lain seperti
kayu/bambu sangkarnya, tempat pakan serta tempat minum. Hal ini biasanya
terjadi apabila pada pakan kekurangan kandungan serat kasar dan juga kandungan
protein pakan sangat rendah. Dengan penambahan bungkil kacang tanah ke dalam
ransum akan membantu menghilangkan kebiasaan ini karena bahan ini akan
memperbaiki imbangan protein di dalam ransum apabila protein ransum rendah.
Pengalaman menunjukkan bahwa dengan cara menyediakan potongan kayu dan garam
cetak yang digantungkan di dalam sangkarnya, maka kebiasaan tersebut akan tetap
berlangsung tanpa merusak bagian-bagian sangkar termasuk tempat pakan dan
tempat minumnya.
BAB VII (SANITASI, TINDAKAN PREVENTIF, DAN
PENGONTROLAN PENYAKIT)
Vaksinasi pada ternak kelinci
tidak perlu dilakukan, maka jalan yang terbaik dan yang paling mudah untuk
pencegahan terhadap penyakit adalah dengan cara sanitasi, yaitu menjaga
kebersihan lingkungannya, termasuk sangkar tempat pakan dan tempat minum setiap
hari. Dengan sanitasi yang baik akan menekan pekembangan penyakit yang akan
menyerang baik terhadap ternak kelinci maupun peternaknya sendiri. Adapun
prinsip sehubungan dengan tindakan pencegahan terhadap penyakit dengan
mengetahui pengertian dan bahaya penyakit itu sendiri, sanitasi ditujukan untuk
menahan penyakit agar tidak berkembang biak, pencegahan lebih baik dari pada
pengobatan, usahakan agar kandang tidak padat, selalu melakukan observasi,
ventilasi dan pencahayaan sinar yang baik, peralatan kandang yang bersih,
jangan terlalu sering memegang ternak, pakan, air, dan peralatan kandang
apabila tidak diperlukan, lakukann isolasi bagi ternak yang sakit, serta
jauhkan ternak dari keadaan yang mengganggu dan berikan istirahat setiap hari.
Penyakit umum dan penting sering
menyerang ternak kelinci adalah Scabies,
Coccidiosis, Pasteurellosis dan Enteritis.
Keempat penyakit ini umumnya disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap
sanitasi di lingkungan peternakan. Penyakit ternak yang dimaksud adalah
penyakit pada kulit, membrane mucosa, kelenjar, saluran pencernaan. Untuk mengontrol penyakit tersebut, dapat
dilakukan dengan cara melihat tanda-tanda atau gejala yang ditimbulkannya.
BAB VIII (HASIL UTAMA DAN HASIL TAMBAHAN TERNAK
KELINCI)
Hasil dari ternak kelinci
dibedakan menjadi hasil utama dan hasil tambahan, yang keduanya sangat
ditentukan oleh jenis ternak dan tujuan beternak itu sendiri.
Pada usaha peternakan yang
bertujuan memproduksi daging, hasil utamanya adalah daging. Sebaliknya, bagi
usaha peternakan yang bertujuan memproduksi kulit, daging merupakan hasil
tambahan, misalnya usaha peternak kelinci yang memelihara kelinci jenis Angora,
maka hasil utamanya adalah bulu/kulit dan hasil tambahannya daging. Disamping
itu semua, kedua usaha beternak dengan memelihara ternak kelinci yang berbeda
dalam tujuan, maka masing-masing akan mempunyai hasil sampingan yang samayang
mempunyai ekonomis tinggi, yaitu urin dan faeces sebagai bahan utama pupuk
kpmpos kelas satu.
Ada beberapa langkah dalam
menangani produk yang erat kaitannya dengan kualitas panen tersebut, yaitu
dengan melakukan Starving (perlakuan terhadap kelinci yang akan dipotong dimana
kelinci tersebut tidak diberi pakan selama 6 – 10 jam sebelum dipotong untuk
mengosongkan usus yang akan menentukan besarnya presentase karkas), Pemotongan
(pemukulan pendahuluan pemahatan tulang leher, pemotongan biasa), Pengulitan,
Pengeluaran Jeroan, Pemotongan Karkas.
Seperti hal dijelaskan bahwa
selain dari hasil dan hasil tambahan yang dapat dari ternak kelinci, juga akan
diperoleh hasil sampingan. Hasil sampingan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi
adalah kotorannya yang dapat dimanfaatkan usaha pertanian sebagai sumber unsure
hara tanah, sebab kotoran kelinci memiliki kadar nitrogen yang tinggi. Dan bila
untuk pupuk yang aktif dan efektif maka harus diolah dengan cara kompos.
BAB IX (TINJAUAN EKONOMI)
Setiap peternak kelinci dapat dikatakan
sebagai seorang pengusaha bila memelihara kelinci sampai ratusan ekor. Untuk
mencapai keberhasilan dalam usaha tertentu membutuhkan modal berupa uang,
waktu, tenaga, dan tempat yang memadai untuk usaha ternak kelinci terebut. Di
samping itu, sebagai peternak yang baik tentu saja harus berusaha untuk dapat
memproduksi anak-anak kelinci sebanyak-banyaknya dari setiap induk selama satu
tahun dalam masa produksinya.
Untuk semua itu, manajemen yang
baik dan terencana akan sangat menunjang keberhasilan usaha yaitu dengan
memilih bibit yang baik, merencanakan modal, tata laksana pemeliharaan yang
baik dan perhatian yang khusus terhadap pakan, kandang/sangkar, sanitasi serta
pencatatan produksi.
follow yyya https://twitter.com/bennyrvd14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar