selamat datang bagi anda yang berkunjung.. semoga blog ini dapat bermanfaat bagi anda..

Senin, 29 September 2014

Kerangka Essai

hallo, apa kabar nih? udah lama gue gak nge post blog. sambil ngisi waktu kosong kuliah, gue mau share mengenai tugas gue waktu SMA nih. siapa tau ini berguna. maaf nih, gue lupa mengenai sumber nya, yang jelas ini terdiri dari kutipan- kutipan di situs internet. selamat menyimak, dan mohon maaf kalau tidak sempurna.


Judul   : Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati.
Tema   : Kesehatan

·        Paragraf Pembuka
Sekarang ini, banyak orang yang mengabaikan pentingnya kesehatan. Sebagian orang beranggapan bahwa kesehatan itu hal yang biasa-biasa saja. Padahal, kesehatan itu sangat mahal. Bagaimana agar kita memiliki kesehatan yang baik?. Tentunya harus mempunyai prinsip bahwa  “Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati”.

·        Paragraf Isi                        :
Semua orang harus memahami arti kata “Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati”.
Banyak orang yang menginginkan dirinya sehat.
Pengaruh kesehatan untuk kedepannya.
Banyak orang yang mengatakan sehat itu mahal.
Pemerintah sebaiknya mau mensosialisasikan masalah ini.

·        Paragraf Penutup :
Upaya pemerintah mensosialisasikan masalah ini kepada masyarakat diharapkan mampu manyadarkan banyak orang bahwa kesehatan itu sangat penting.



MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI
Siapa yang tak mengenal kata sehat, sehat merupakan bagian terpenting dalam kehidupan. Sebagian orang hanya mengetahui kata sehat, tetapi tidak dengan arti yang sesungguhnya. Banyak kalangan masyarakat menengah kebawah tidak memperdulikan kesehatan dirinya. Bagi mereka, kesehatan seadanya sudah cukup untuk memenuhi kehidupannya. Sebagian orang hanya mengetahui kata sehat, tetapi tidak dengan arti yang sesungguhnya.
Sekarang ini, banyak orang yang mengabaikan pentingnya kesehatan. Sebagian orang beranggapan bahwa kesehatan itu hal yang biasa-biasa saja. Padahal, kesehatan itu sangat mahal. Bagaimana agar kita memiliki kesehatan yang baik?. Tentunya harus mempunyai prinsip bahwa “Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati”.
Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati. Sering sekali kita mendengar slogan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, baik itu dari iklan televisi, majalah, koran, guru di sekolah ataupun yang lainnya. Slogan yang sudah sangat populer di tengah masyarakat. Namun, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah slogan tersebut sudah benar-benar diimplementasikan oleh masyarakat Indonesia?
Melihat kehidupan yang ada, nampaknya masyarakat Indonesia belum sepenuhnya mengaplikasikan slogan di atas karena masih “menganut” cara pandang sakit bukan cara pandang sehat. Mengapa demikian?. Seringkali orang-orang tidak menganggap penting kesehatan sehingga selalu “terlena” saat dirinya sehat, serta melakukan hal-hal semaunya padahal itu sangat merugikan kesehatan, misalnya merokok, tidak memperhatikan pola makan, banyak mengkonsumsi makanan yang tidak baik bagi kesehatan, dan sebagainya.
Padahal, itu semua sangat merugikan, Mengapa? karena sehat itu mahal harganya. Jika kita sakit, pasti mengeluarkan biaya pengobatan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya. Lalu apakah kita bisa melakukan pencegahan agar kita tetap sehat dan tidak terserang penyakit? Jawabannya pasti BISA, dengan gaya hidup sehat, makanan dan minuman yang sehat, olahraga secara rutin, waktu istirahat dan bekerja yang teratur dan banyak lagi cara agar tubuh kita tetap sehat.
Untuk itu, apa arti kata ”Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati” itu sendiri?, kata tersebut berarti bahwa kita harus berperilaku hidup sehat agar tidak mudah terkena penyakit. Sebelum terlanjur terkena penyakit, kita seharusnya mengetahui caranya agar kita tidak mudah terkena penyakit. Jika kita sudah terkena penyakit, maka kita telah melakukan sedikit kesalahan dalam pola hidup kita.
            Selain itu, apa pengertian kesehatan?. Sebelumnya kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa itu sehat? UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992 memberikan batasan kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Definisi sehat menurut WHO tahun 1974 yaitu keadaan sempurna dari fisik, mental, sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Dengan demikian, sehat itu tidak hanya sebatas bebas dari penyakit saja secara fisik, namun mencakup juga aspek sosial, mental bahkan ekonomi.
            Seiring berkembangnya zaman, konsep pengertian kesehatan masyarakat mulai muncul kira-kira pada pertengahan abad 19 di tengah revolusi industri di negara barat. Berbeda dengan ilmu kedokteran yang lebih memfokuskan pelayanan pada kuratif dan rehabilitatif, kesehatan masyarakat lebih memfokuskan pelayanan kepada preventif (pencegahan) dan promotif. Berkembangnya ilmu ini untuk lebih mengukuhkan bahwa setiap orang seharusnya menyadari untuk selalu memelihara kesehatannya.
C. E. A. Winslow (1920), seorang guru besar Yale University, mengemukakan bahwa kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni untuk mencegah penyakit, memperpanjang usia hidup (kehidupan) serta mempromosikan kesehatan dan efisiensi, melalui usaha pengorganisasian masyarakat untuk sanitasi lingkungan, pengendalian penyakit menular, pendidikan kesehatan kepada individu mengenai personal hygiene, pengorganisasian pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pencegahan penyakit, dan pengembangan masyarakat untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam melihara kesehatannya.
Menurut Bapak Prof. Dr. Soekidjo Notoatmojo, SKM, M.Com., H. dalam bukunya yang berjudul “Kesehatan Masyarakat, Ilmu dan Seni” mengemukakan bahwa paradigama sehat memfokuskan pembangunan kesehatan pada upaya promotif dan preventif (pencegahan) dibandingkan upaya kuratif dan rehabilitatif.
Bapak dr. Adang Bachtiar, MPH, Sc.D (Ketua IAKMI/Dosen FKM UI, dalam acara Seminar Nasional IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia) Cabang Kabupaten Kuningan tahun 2012, mengatakan bahwa sebuah pelajaran berharga yang dapat kita contoh dari negara Thailand yaitu mereka melaksanakan optimalisasi upaya kesehatan preventif (pencegahan) dan promotif, antara lain : fokus pada pencegahan dan perilaku, fokus pada UKBM dan upaya kesehatan dasar, monitor status gizi dan pelatihan kader, cakupan yang meluas, strategi pengentasan kemiskinan dan gizi buruk, strategi pertanian dan keamanan pangan.
Namun, di Indonesia upaya-upaya tersebut tidak dioptimalkan dengan baik oleh pemerintah maupun masyarakat, bahkan kondisinya tren kuratif (pengobatan) meningkat cepat, anggaran kesehatan meningkat tapi relatif kecil (WHO mengisyaratkan > 5% GDP) serta pembiayaan kesehatan yang non-prioritas dan konstan selalu kecil.
Sebagai warga masyarakat, sudah seharusnya kita memiliki kesadaran untuk selalu mengupayakan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan membiasakan diri melaksanakan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Upaya pencegahan dapat dibiasakan dari mulai lingkup terkecil, misalnya lingkungan keluarga. Di lingkungan keluarga, orang tua tentu memilki peran yang sangat penting dalam menumbuhkan kesadaran untuk menerapkan PHBS.
Contoh upaya-upaya PHBS antara lain :
1.      tidak membuang sampah sembarangan, sampah akan mengundang keberadaan lalat sebagai vektor (penular) penyakit, misalnya diare, tifus, kolera.
2.      mencuci tangan sebelum makan ataupun setelah melakukan buang air, mencegah terjadinya penyakit yang ditularkan lewat makanan dan minuman misalnya tifus, diare, kolera, disentri, kecacingan (misalnya cacing keremi).
3.      menggunakan sandal saat berjalan di luar, mencegah terjadinya kecacingan.
4.      menerapkan konsep 3M (menguras bak, menutup, mengubur barang bekas), mencegah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk sebagai vektor (penular) penyakit tersebut misalnya DBD (Demam Berdarah Dengue), chikungunya.
5.      Membersihkan pekarangan rumah, jangan membiarkan adanya genangan air kotor, untuk mencegah penyakit malaria dan filariasis (kaki gajah, elefantiasis).
6.      tidak merokok, dapat mencegah berbagai penyakit misalnya kanker paru, stroke, serangan jantung dan pembuluh darah, gangguan kehamilan dan janin.
7.      mengkonsumsi makanan gizi seimbang, untuk meningkakan imunitas, dll.
Upaya tersebut untuk menciptakan kesehatan itu sendiri akan berpengaruh untuk kedepannya. Dengan hidup sehat, tentunya hidup kita akan lebih terasa menyenangkan. Ketika sehat dalam keadaan apapun, maka sejahteralah dalam hidupnya. Bagaimana tidak, jika seseorang mudah sakit maka tentunya akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengobatinya. Dengan demikian, sebagian orang ada yang mengatakan sehat itu mahal, tetapi di sisi lain juga ada yang masih beranggapan kalau kesehatan itu hal yang biasa saja.

            Mendengar kondisi seperti itu, bagaimana langkah pemerintah agar masyarakat mau menyadari pentingnya memiliki kesehatan?  Tentunya dengan mengadakan tindakan sosialisasi langsung ke dalam kehidupan masyarakat yang masih memiliki pemikiran kesehatan itu biasa saja. Dan untuk melancarkannya, perlu adanya program yang membangun bersama dalam hal kesehatan. Hal ini ber tujuan agar masyarakat mau berubah pemikirannya dari yang menganggap biasa saja sampai menganggap kesehatan itu sangat penting. Upaya pemerintah dalam hal mensosialisasikan kesehatan kepada masyarakat diharapkan mampu menyadarkan kepada masyarakat bahwa kesehatan itu sangat penting untuk kehidupan.

Informasi diatas di ambil dari berbagai sumber situs internet.

1 komentar: